Rencana Penerapan Lima Hari Sekolah Masih Timbulkan Polemik

Adanya rencana pemberlakuan lima hari sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hingga kini masih menimbulkan polemik di Kota Tegal. Bahkan, sejumlah anggota DPRD Kota Tegal menilai pemberlakuan sistem sekolah sehari penuh atau full day school (FDS) tersebut tidak efektif dan justru akan menimbulkan persoalan di masyarakat.



Ketua Komisi I DPRD, Hery Budiman mengatakan, masyarakat berharap lima hari sekolah tidak direalisasikan. Sebab, kebijakan tersebut menyebabkan proses belajar mengaji di madrasah – madrasah yang dilaksanakan sore hari terganggu. "Saya menolak terhadap pemberlakukan lima hari sekolah. Banyak dampak yang akan ditimbulkan apabila kebijakan itu tetap dijalankan karena banyak yang tidak setuju," tegasnya.

Hal serupa juga disampaikan, anggota DPRD, Rofi'i Ali. Menurut dia, kebijakan lima hari sekolah akan menimbulkan berbagai dampak. Antara lain, hilangnya kesempatan masa bermain anak-anak, hilangnya kesempatan masa bersosialisasi anak dengan lingkungannya, hilangnya kesempatan anak untuk belajar agama di lembaga non formal seperti, di Madrasah Diniyah atau  Madrasah Aliyah (MDA). "Keadaan seperti sangat berbahaya karena anak-anak bisa tidak mengenal dengan agamanya sendiri. Tenaga dan pikiran anak akan tereksploitasi, interaksi antara anak dengan orang tua akan berkurang. Padahal, kedekatan anak dengan orang tuanya sangat penting," ujarnya.

Sementara itu, mantan Ketua Dewan Pendidikan Kota Tegal, Sisdiono Ahmad menyatakan, penerapan FDS kurang tepat khususnya bagi siswa Sekolah Dasar (SD). Sebab, hal itu akan mengurangi masa bermain anak-anak. Selain itu, kearifan lokal berupa kegiatan belajar mengajar keagamaan di Madrasyah Diniyah akan terganggu. Padahal, keberadaan madrasyah selama ini telah terbukti sebagai pembentuk dasar-dasar keagamaan. “Saya mengusulkan di Kota Tegal tetap enam hari sekolah karena pendidikan dasar adalah kewenangan,” katanya.

Menurut dia, hal itu pernah dilakukan ujicoba, namun baru diterapkan selama satu pekan sudah banyak keluhan dari siswa dan orang tua. Selain itu, sekolah juga belum siap karena jadwal tidak tepat waktu. Jadwal istirahat siswa juga dinilai masih kurang. Sesuai teori psikologi pendidikan, proses belajar mengajar pada pukul 14.00-16.00 tidak efektif karena siswa maupun guru sudah kelelahan. Apalagi, pada hari Sabtu masih ada kegiatan ekstrakurikuler.(WN)