Komunitas Kami Peduli Bantu Warga Kampung Tirang

By: adm
Minggu, 29-05-2016 10:19 wib
10
Share:

Kondisi yang selama ini dialami warga di Kampung Tirang, Tegalsari, Kota Tegal menimbulkan keprihatinan berbagai pihak. Sebab, selama puluhan tahun warga yang bermukim di tempat tersebut hidup terisolir karena tidak adanya jembatan penghubung, jaringan listrik maupun air bersih.

Oleh karena itu, sejumlah anggota Komunitas Kami Peduli Tegal yang mengetahui kondisi tersebut, pada, Jumat (27/5) berkunjung ke Kampung Tirang untuk menyerahkan bantuan, berupa beras dan mie instan. Bantuan diterima langsung kepada 12 kepala keluarga.


Menurut perwakilan Komunitas Kami Peduli, Joko Santoso, pemberian bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat kurang mampu serta wujud syukur kepada Allah SWT. Selain itu, pihaknya juga membagikan nasi bungkus kepada para tukang becak, pengemis, anak telantar dan para kaum dhuafa di Kota Tegal. "Selama ini kegiatan sosial yang kami laksanakan setiap hari Jumat telah berjalan baik dan kami berharap akan terus berlangsung," katanya.

Dia mengemukakan, sumber pendanaan diperoleh dari para anggota Komunitas Kami Peduli, para donatur dan masyarakat umum. Dari dana yang terkumpul kemudian dibelikan nasi bungkus dan air mineral selanjutnya dibagikan kepada masyarakat yang kurang beruntung seperti, para tukang becak, pengasong, pengemis maupun tukang parkir.

Sementara itu, warga Kampung Tirang, Roipah (45) menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan dari para anggota Komunitas Kami Peduli. Menurut dia, meski jarak dengan pusat Kota Tegal hanya sekitar 2,5 kilometer, namun warga yang tinggal di wilayah Kampung Tirang belum bisa menikmati pesatnya kemajuan teknologi dan pembangunan. Hiburan yang mereka nikmati setiap malam hari hanyalah suara jangkrik dan deburan ombak laut.

Dia mengemukakan, aktifitas warga juga sering terhambat akibat tidak adanya jembatan penghubung. Setiap musim rob ataupun ombak laut tinggi warga kesulitan untuk keluar dari kampungnya. Sebab, akses untuk keluar maupun menuju tempat itu sebagian besar warganya hanya mengandalkan perahu rakit/<I>gethek<P>. "Sering kali setiap malam tiba saya bersama suaminya selalu berangan-angan jaringan listrik bisa sampai ke rumahnya. Namun, hingga kini harapan tersebut belum juga kesampaian," katanya.

Warga lain, Darso (58) menyampaikan, kondisi demikian telah berlangsung selama puluhan tahun. Untuk jaringan listrik belum ada. Sejumlah warga terpaksa harus menyalur ke warga kampung seberang. Namun, biaya yang harus ditanggung cukup besar yaitu sekitar Rp 150.000/bulan. Karena itu, apabila ada jaringan listrik secara langsung yang dibangun oleh pemerintah diperkirakan biayanya bisa murah.

Menurut dia, jumlah rumah warga di Kampung Tirang ada 12 rumah dengan jumlah penghuni sekitar 30 jiwa. Sebagian besar warga di Kampung Tirang bekerja sebagai nelayan dan buruh fillet, dengan penghasilan dan tak menentu. Untuk mendapatkan pendapatan sampingan di antara mereka ada yang beternak kambing. "Kami berharap pemerintah bisa membantu kami," tandasnya. (WN)



Aspirasi Warga