Mencari Pemimpin Pada Pilkada Kota Tegal 2018

By: adm
Rabu, 14-06-2017 09:51 wib
28
Share:

Rabu 14 Juni 2017

Kota Tegal sedang dalam keadaan darurat. Pertanyaanya, apa yang sedang terjadi sehingga masyarakat resah. Jawabanya, karena adanya pelanggaran undang-undang. Itu perlu dicari penyebabnya, dan dicari pula solusinya. Demikian dikatakan H.M Basri Budi Utomo selaku Ketua Panitia Penyelenggara Silaturahmi Ramadhan Bersama Tokoh Masyarakat Tegal, Menuju Tegal Lebih Baik, di Kafe Nelayan Bahari Inn Kota Tegal, Rabu (14/6) malam.

 

“Banyak pelanggaran undang-undang yang dilakukan pemimpin Kota Tegal saat ini. Misalnya disharmonisasi antara walikota dengan wakil walikota. Wakil walikota dianggap tidak ada, diabaikan. Termasuk walikota yang tidak mematuhi putusan PTUN dan banyak lagi, seperti yang sudah kami nyatakan sebagai 10 dosa besar walikota,” tutur Basri Budi Utomo yang juga Ketua Presidium Komite Penyelamat Kota Tegal (KPKT).

Sebagai nara sumber pada acara yang bertajuk “Tegal Kembali Bermartabat” diantaranya Bupati Tegal Enthus Susmono, Wakil Walikota Tegal HM Nursholeh, Laksamana Sunaryo, Dr Maufur, H.M Basri Budi Utomo dengan moderator Dr Yayat Hidayat Amir. Hadir sebagai undangan para politisi, budayawan, tokoh-masyarakat, tokoh pendidikan, akademisi dan ormas serta para aktivis diantaranya Walikota Pekalongan, Dr Yusqon, Atmo Tan Sidik, H Ghautsun, dr Muslih, H Hadirin, Mulyadi, H Moh Ilyas, Yono Daryono, H Sisdiono Ahmad, H Amiruddin, Rahmat Raharjo serta lainnya.

Dikatakan Dr Yayat Hidayat Amir bahwa acara mengarah ke persoalan untuk mendapat gambaran situasi politik saat ini, dimana pada masa-masa akhir jabatan walikota. Pada menjelang Pilkada 2018, saat ini sudah terjadi proses-proses politik dengan memobilisasi massa, ASN. Wakil Walikota Tegal HM Nursholeh pada paparanya sepakat jika ada usulan bersatunya para kandidat calon walikota, yang pada akhirnya akan memunculkan satu calon, dan calon lainnya mendukung satu calon yang paling punya potensi.

“Kalau strategi itu pada akhirnya memang terjadi, saya sangat legowo. Saya sudah melakukan komunikasi dengan beberapa kandidat, Insya Allah hasilnya akan baik,” ujarnya yang akrab disapa Kang Nur.

Demikian pula yang dikatakan Bupati Tegal, Enthus Susmono bahwa Pilkada Kota Tegal akan lebih baik diikuti dua calon. Untuk melawan incumbent, strategi yang baik adalah head to head. Untuk melawan kekuatan incumbent, dengan bersatunya para kandidat dan memunculkan hanya satu calon, itu langkah yang sangat menguntungkan. “Persoalanya, bisakah para calon-calon itu bersatu, kemudian hanya memunculkan satu calon?,” ujar Ki Enthus. (RJ)

 

 

 


Aspirasi Warga